FPI, LASKAR MUJAHID ATAU SEKEDAR TERORIS?

Powered by Toba.AI

Reputasi ormas nasional Front Pembela Islam (FPI) sedang meningkat tajam sejak tanggal 30 Desember 2020. Hal tersebut dipicu oleh terbitnya Surat Keputusan Bersama (SKB) Nomor 220-4780 Tahun 2020 tentang Larangan Kegiatan, Penggunaan Simbol dan Atribut, Serta Penghentian Kegiatan Front Pembela Islam yang ditandatangani oleh enam menteri dan pimpinan lembaga yaitu (1) Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, (2) Menteri Hukum dan HAM RI, Yasonna H. Laoly, (3) Menteri Komunikasi dan Informatika RI, Johnny G. Plate, (4) Jaksa Agung RI, Burhanuddin, (5) Kepala Kepolisian Negara RI, Jenderal Pol. Idham Azis, dan (6) Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, Boy Rafli Amar. Poin utama yang digarisbawahi dalam keputusan tersebut adalah penegasan bahwa secara de jure Front Pembela Islam sudah tidak terdaftar sebagai ormas sejak tanggal 21 Juni 2019.

Rekam data hasil analisis Toba.AI menunjukkan bahwa terdapat lonjakan frekuensi tweet dengan kata kunci “FPI” hingga menembus angka 13.962 pada tanggal 30 Desember 2020. Mengutip dari halaman web cnnindonesia.com, setelah terbitnya keputusan bersama tersebut, Front Pembela Islam sempat mengubah namanya menjadi Front Persatuan Islam, sebelum akhirnya secara resmi menjadi Front Persaudaraan Islam.

Dari tinjauan terhadap naskah SKB yang dipublikasikan pada halaman resmi web.kominfo.go.id, pertimbangan pemerintah untuk mengambil kebijakan didasarkan pada beberapa hal yang meliputi (1) Surat Keterangan Terdaftar (SKT) FPI sebagai ormas hanya berlaku hingga 20 Juni 2019 dan sampai saat ini FPI belum memenuhi syarat untuk memperpanjang SKT tersebut, oleh karenanya secara de jure mulai tanggal 21 Juni 2019 FPI dapat dianggap bubar, (2) berdasarkan data pengurus dan/atau anggota FPI, sebanyak 35 orang pernah terlibat tindak pidana terorisme dan 29 orang diantaranya telah dijatuhi pidana, disamping itu sejumlah 206 orang juga terlibat berbagai tindak pidana umum lainnya dan 100 orang diantaranya telah dijatuhi pidana, serta (3) kecenderungan pengurus dan/atau anggota FPI untuk melakukan tindakan razia (sweeping) di tengah-tengah masyarakat berdasarkan dugaan sendiri yang sebenarnya hal tersebut adalah tugas dan wewenang Aparat Penegak Hukum.

Akun yang menduduki peringkat pertama dalam penyebutan kata “FPI” adalah @RestyLeseh, kemudian disusul oleh akun @tukangfolback_. Fakta menariknya adalah ketika dilakukan cross-check, tidak ditemukan adanya akun @RestyLeseh dan @tukangfolback_ di Twitter. Kedua akun tersebut kemungkinan berubah nama menjadi Negri Seterah (@RestyResseh) dan Hudzaifah Abu Hanun (@Revenger1924_). Dari pengamatan tweet, kedua akun tersebut tampaknya berada pada posisi pro dengan Front Pembela Islam. Demikian juga halnya dengan ZieZie (@Zie1407Zie) dan Wahyudi SS (@Wahyudi_Ss).

Bersama dengan kata kunci “FPI”, kata “frontpersatuanislam”, “payah”, “frontpembelaislam”, “fpiyang”, dan “gag” menjadi kata yang paling banyak muncul di tweet. Selain kata tersebut, kata “membubarkannya”, “penolakan”, “rizieqshihab”, dan “dienyahkan” juga dijumpai bersinggungan dengan kata “FPI”. Kata “frontpersatuanislam” menempati frekuensi tertinggi (7.916 kali) kemudian disusul dengan kata “payah” (5.731 kali), dan “frontpembelaislam” (5.213 kali). Dari pilihan kata yang digunakan oleh warga Twitter seperti “penolakan”, “payah”, dan “dienyahkan”, tweet yang dijumpai menimbulkan kesan frontal dan bold bagi dunia maya ketika membuat percakapan seputar topik FPI.

Pada tinjauan analisis sentimen, secara umum saat ini didominasi oleh kelompok “negatif” (69.50%) dengan frekuensi tweet 12.015 kali. Di sisi lain, persentase kelompok “netral” dan “positif” ternyata hampir sama (15.1% < 15.4%) dengan frekuensi tweet masing-masing 2.618 dan 2.667 kali. Hasil dominansi kelompok “negatif” mengindikasikan bahwa secara tidak langsung, masyarakat ternyata merasa cukup resah dengan ormas FPI ini. Sejak ditetapkannya SKB pada tanggal 30 Desember 2020 lalu, tagar #FPITerlarang dan #FPIFixBubar meledak karena digunakan di Twitter.

Hasil analisis Toba.AI berdasarkan kata kunci “FPI” menunjukkan adanya lonjakan tajam pada frekuensi penggunaan kata tersebut pada tanggal 30 Desember 2020. Di jagad Twitter, meledaknya tweet tentang “FPI” menembus angka 13.962 kali yang dimulai bersamaan dengan ditetapkannya SKB nomor 220-4780 tahun 2020 tentang larangan segala bentuk kegiatan FPI. Kata “FPI” bersinggungan dengan kata-kata yang masih berhubungan dengan FPI seperti “frontpersatuanislam” dan “rizieqshihab”. Selama 7 hari terakhir, sentimen “positif” dan “netral” masing-masing berkurang sebesar 19.47% dan 14.53%. Sebaliknya, sentimen “negati” justru meningkat drastis sebesar 33.99%. Dari semua data, “FPI” terbukti mendapatkan reputasi yang buruk di jagad Twitter.

Post Views: 24