KEMBANG KEMPIS INDUSTRI SINEMA TANAH AIR

Toba.AI – Berselang empat bulan sejak bioskop kembali dibuka, nyatanya masyarakat masih ragu untuk kembali masuk ke teater layar lebar. Tidak ingin hanya berdiam, karyawan industri dan segenap pengelola bioskop pun bergerak agar sektor hiburan mampu bertahan di masa pandemi ini. 

Sebagai orang yang suka banget nonton film di bioskop, saya juga kangen duduk di teater gelap-gelapan sambil dibisikin “all around you” sama sound system Dolby Atmos. Pandemi Covid-19 yang udah hampir satu tahun ini memang memukul sangat keras industri perfilman. Nggak cuma di Indonesia, tapi juga semua produksi di seluruh dunia. Pandemi Covid-19 ini juga bikin film prekuel produksi Marvel, Black Widow yang saya tunggu-tunggu batal tayang di Mei 2020 yang lalu dan mundur sampai April 2021.

Belum lama ini banyak media yang mengabarkan soal postingan media sosial Ernest Prakasa bareng karyawan Cinema XXI salah satu bioskop mall di Jakarta yang viral karena nyari penonton sampai lantai LG padahal bioskopnya ada di lantai paling atas. Dari penelusuran di Kompas, Ketua Gabungan Pengelola Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI) Djonny Syafruddin berpendapat bahwa hal itu dilakukan semata-mata supaya bioskop tetap beroperasi di tengah kondisi pandemi yang tak kunjung berhenti.

Pandemi Covid-19 mengubah banyak wajah, termasuk industri perfilman. Perlahan tapi pasti, tren untuk nonton secara streaming akan semakin menguat di tahun 2021. Setiap kali saya mantengin postingan Twitter, setidaknya ada satu komentar warganet yang jualan akses layanan platform video-on-demand seperti Netflix, HBO, Viu, atau IFlix. Karena tren yang berubah ini, banyak sineas yang merugi, belum lagi dampak yang ditanggung oleh pihak bioskop dan terpaksa merumahkan karyawan.

Saking cepatnya peralihan tren nonton masyarakat, Gojek startup berstatus decacorn karya anak bangsa dengan berbagai layanan pun akhirnya menambah deretan fiturnya dengan platform streaming film dan series yang diberi nama GoPlay. Tahun lalu, GoPlay telah menggaet anak perusahaan asal Korea Selatan, CJ ENM HK untuk memperkuat layanannya. Dari kerjasama antara keduanya, film unggulan produksi Korea Selatan seperti Train to Busan dan Parasite akan dapat diakses melalui GoPlay.

Pertanyaan yang tersisa sekarang tinggal bagaimana nasib bioskop jika misalnya semua orang lebih memilih nonton film lewat layanan streaming? Dengan kerugian industri film tanah air selama ini yang ditaksir mencapai 481 milyar perbulan, rasanya nggak mungkin bioskop akan dilupakan begitu saja.  Saya sendiri sih jelas akan tetap nonton kembali ke bioskop ketika pandemi ini mulai membaik. Karena buat saya, nangis berjamaah ketika Tony Stark nge-snap Thanos cuma terjadi di teater bioskop aja.

Dari viralnya upaya karyawan bioskop untuk mencari penonton, kita bisa menyadari bahwa masih banyak hal-hal yang dilematis selama pandemi ini. Banyak orang yang nyari penghidupan dari industri perfilman dengan potensinya mempercepat penyebaran virus Covid-19. Industri ini juga yang pertama kali merasakan aturan yang sangat ketat, mulai dari penutupan total sampai izin beroperasi dengan kapasitas 25-50%. Film andalan DC, Wonder Woman 1984 yang akhirnya tayang sejak 16 Desember 2020 juga nggak serta merta bikin orang tertarik buat kembali nonton film di bioskop.

Dengan semua kondisi sulit tadi, pelaku industri perfilman tanah air perlu banyak perhatian dan dukungan dari pemerintah khususnya pada bidang ekonomi kreatif. Kondisi pandemi ini hanya bisa dilewati dengan upaya dan solusi bersama supaya roda ekonomi tetap berputar. Meskipun platform streaming semakin populer, saya yakin bioskop nggak akan ditinggalkan oleh masyarakat. Apalagi oleh generasi 90an saya yang tumbuh besar bareng film Harry Potter, Narnia, dan Petualangan Sherina.